Postingan

Mata Kuliah RPM 2

Perkembangan dan pertumbuhan mempunyai arti proses perubahan secara berkesinambungan dari lahir sampai mati. Dalam mengikuti mata kuliah Rentang Perkembangan Manusia Dua atau (RPM II) banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan, terutama pada masa-masa perkembangan manusia pada masa manusia dari masa remaja, masa dewasa awal, dewasa madya (tengah), dewasa akhir hingga sampai akhir pada kematian manusia. Dalam RPM II ini juga dapat belajar dari teori tentang perkembangan dari para tokoh psikologi seperti Sigmund Freud dengan teori psikoanalisa, teorinya berfokus pada dinamika alam bawah sadar manusia. Selanjutnya ada Erik Erikson yang beberapa kali sering dibahas didalam perkuliahaan Ibu kumala yang juga penganut teori psikoanalisa modern yang berfokus pada krisis diri disetiap tahapan. Ada lagi Jean Piaget yang berfokus pada kognitif manusia, termasuk didalamnya perkembangan kognitif manusia sejak lahir sampai dewasa. Saya merasakan selama mengikuti kuliah RPM II ini sangat berm...

Dampak Lunturnya Nilai-Nilai Pancasila

Kita semua tahu dasar negara kita berideologi Pancasila atau menciptakan dan menganut sistem ideologi sendiri bernama Pancasila yang sejajar dengan ideologi negara-negara lain, misal sebut saja ideologi liberalis, komunis, sosialis dan masih ada yang lain. Diera sekarang, banyak generasi muda dan remaja saat ini tak paham apa itu ideologi negara, apalagi sampai tahu bahwa kalau Pancasila sebagai ideologi bangsa. Alih-alih tahu Pancasila itu sebagai dasar dan ideologi negara, kadang isi Pancasila saja banyak yang tidak tahu. Sungguh Ironis bukan? Bila anak-anak usia remaja masa kini yang serba “Gaul” pintar dengan teknologi yang katanya tidak gaptek atau tidak gagap teknologi namun banyak yang tidak tahu apa isi Pancasila dan apalagi sampai meng-implementasikan kehidupan yang berdasarkan nilai -nilai yang terkandung dalam Pancasila, tentu tidak. Pengaruh globalisasi telah membuat remaja bahkan masyarakat cenderung berperilaku individualistik. Nilai-nilai Pancasila saat ini, terliha...

Kenapa Negara Tak Cetak Uang Sebanyak-banyaknya Agar Bisa Bayar Utang dan Terbebas Kemiskinan?

Gambar
Masih banyak penduduk miskin, banyak orang tak memiliki pekerjaan dan negara punya banyak hutang. Tentu sempat terpikirkan, kenapa setiap negara tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya saja agar bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah. Cetak banyak uang, utang lunas dan uang pun juga bisa dibagikan kepada masyarakat miskin yang membutuhkan. Bukankah seharusnya bisa begitu? Lalu kenapa selama ini pemerintah tidak melakukannya, tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya? Ternyata mencetak uang bukanlah urusan sepele. Mencetak uang secara besar-besaran bukan berarti akan menyelesaikan masalah. Yang ada justru menambah masalah. Kenapa? Dikutip TribunSolo.com dari Wikipedia, ada dua sistem saat mencetak uang, yakni pseudo gold dan uang fiat. Pseudo gold sendiri merupakan pencetakan uang yang didukung dengan cadangan emas atau perak. Sementara itu uang fiat yakni, uang yang beredar tidak didukung dengan aset, yang berarti sistem fiat, pemerintah atau lembaga penerbit uan...

MEMBACA DAN MENEBAK ARAH PDIP DALAM PILKADA DKI

Pilkada Serentak akan terjadi kembali di tahun 2017 di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota di Indonesia. Namun dari semua daerah itu tak se-“seksi” Pilkada yang terjadi di Ibukota DKI Jakarta. Mengapa demikian, timbul suatu pertanyaan yang mendasar. Pilkada DKI Jakarta mulai diperbincangkan jauh hari dan intensitasnya jauh lebih banyak dibanding daerah lain. Geliat memanasnya, dari beberapa bulan yang lalu sepanjang tahun 2016 ini memang sudah ramai dibicarakan. Selain karena DKI Jakarta sebagai ibukota negara yang wilayahnya strategis, DkI ini juga dianggap sebagai miniaturnya Negara Republik Indonesia. Maka banyak orang yang berambisi ingin menduduki kursi orang nomor satu di jakarta. Selain Faktor itu juga ada faktor yang tak kalah penting yaitu sebagian kalangan yang tidak suka kepada sang gubernur Petahana Basuki Cahaya Purnama atau Ahok. Bahkan saya tadi membaca sebuah berita ada salah satu politisi yang mengatakan bahwa Gubernur petahana saat ini Basuki Cahaya Purnam...

PDIP Pemegang “Kartu” PILKADA DKI

Tidak  dapat dipungkir kalau saat ini PDIP diatas angin, mempunyai kursi tertinggi di DKI Jakarta dengan total mempunyai 28 kursi yang lebih dari cukup syarat( 22 kursi) mengajukan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur sendiri tanpa berkoalisi dengan partai manapun. Menurut saya PDIP saat ini memegang “kartu” kunci strategis untuk Pilkada DKI Jakarta karena selain bisa mengusung pasangan sendiri, PDIP juga menjadi partai yang di tunggu partai lain untuk menentukan arah dan siapa pasangan yang akan diusung tersebut. Bahkan ketika PDIP bergabung dengan partai lain dalam koalisi kekeluargaan, PDIP ingin memimpin koalisi dan partai-partai lain itupun juga setuju jika PDIP memimpin koalisi tersebut dengan menyodorkan kandidat calon Gubernur. PDIP di tubuh koalisi kekeluargaan juga sangat penting selain faktor suara terbanyak pemenang pemilu di DKI jakarta juga banyak kader PDIP yang di gandrungi dan disukai masyarakat banyak termasuk partai-partai yang tergabung dalam koalisi terse...