Dampak Lunturnya Nilai-Nilai Pancasila



Kita semua tahu dasar negara kita berideologi Pancasila atau menciptakan dan menganut sistem ideologi sendiri bernama Pancasila yang sejajar dengan ideologi negara-negara lain, misal sebut saja ideologi liberalis, komunis, sosialis dan masih ada yang lain. Diera sekarang, banyak generasi muda dan remaja saat ini tak paham apa itu ideologi negara, apalagi sampai tahu bahwa kalau Pancasila sebagai ideologi bangsa. Alih-alih tahu Pancasila itu sebagai dasar dan ideologi negara, kadang isi Pancasila saja banyak yang tidak tahu. Sungguh Ironis bukan? Bila anak-anak usia remaja masa kini yang serba “Gaul” pintar dengan teknologi yang katanya tidak gaptek atau tidak gagap teknologi namun banyak yang tidak tahu apa isi Pancasila dan apalagi sampai meng-implementasikan kehidupan yang berdasarkan nilai -nilai yang terkandung dalam Pancasila, tentu tidak. Pengaruh globalisasi telah membuat remaja bahkan masyarakat cenderung berperilaku individualistik. Nilai-nilai Pancasila saat ini, terlihat tidak lagi menjiwai perilaku masyarakat Indonesia. Ini ditandai dengan memudarnya semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa ini sejak dulu. Tidak terlihat lagi semangat gotong- royong, kebersamaan, dan semangat tenggang rasa di antara unsur-unsur masyarakat Indonesia saat ini. Maka tak heran bila remaja masa kini banyak yang tidak tahu dan tidak punya moral, banyak melakukan tindakan yang negatif, melakukan tindakan kriminal, sampai tindakan yang mengatasnamakan isu-isu sara dalam berbagai kesempatan mulai nampak. Kekerasan berbau SARA dan proses “pencucian otak” yang konon dilakukan oleh kelompok aliran tertentu yang secara asasi bertentangan secara dengan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila bisa menjadi bukti, betapa negeri yang dulu disanjung puji sebagai bangsa yang ramah dan santun itu kini berangsur-angsur berubah menjadi bangsa pemarah dan banyak tindak kekerasan. Bangsa kita seolah-olah tengah mengidap “amnesia sejarah”. Bangsa kita seperti tengah terseret ke dalam arus peradaban bangsa bar-bar dan kanibal yang tega memangsa sesamanya. Belum lama ini saya mendengar berita bahwa kekerasan antar perlajar di Yogyakarta sendiri telah menyebabkan seorang pelajar meninggal karena dikeroyok. Kekerasan bukan budaya Indonesia oleh karenanya kita harus cegah sekarang. Kita terasa sudah sekitar 18 tahun ini tidak ada lagi pelajaran nilai-nilai luhur ke Indonesiaan dengan semangat Pancasila. Pendidikan Pancasila sangat penting untuk dapat membentuk karakter, kepribadian,dan juga moralitas bangsa. Dengan pribadi yang bermoral dan berkarakter tentu akan menghilangkan semua tindakan negatif itu. Semua itu terjadi Karena Faktor yang di pengaruhi rendahnya pengajaran dan pengamalan Pancasila di lingkungan sekolah sejak dini. Dulu saya masih ingat terdapat mata pelajaran PMP dan P4 yaitu Pendidikan Moral Pancasila dan Pedoman, Penghayatan serta Pengamalan Pancasila ,mata pelajaran yang secara khusus sejak dari bangku sekolah dasar ini mengamati dan mempelajari moral Pancasila dan sekaligus isi nilai-nilai yang terkandung dari Pancasila lebih mendalam. Semenjak era reformasi sekarang ini mata pelajaran PMP dan  P4 dihapus dari mata pelajaran yang wajib dipelajari siswa atau dihapus dari kurikulum yang ada saat ini. Saya mendengar dari Bapak Guru Sekolah Dasar saya kala itu kalau PMP dan P4 di lebur menjadi satu dengan mata pelajaran PKN atau Pendidikan kewarganegaraan. Memang di leburnya mata pelajaran PMP dan P4 yang bergabung menjadi mata pelajaran PKN atau Pendidikan Kewarganegaraan kajiannya saat luas tidak hanya di dalam Pancasila, namun menurut saya itu berdampak pada kurangnya pengkajian, penghayatan tentang Pancasila itu sendiri, padahal mata pelajaran mengenai Pancasila itu sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan lebih bagus berdiri sendiri daripada harus bergabung menjadi satu di dalam mata pelajaran Penddikan Kewarganegaraan. Entah apa pertimbangan pemerintah saat itu, mungkin Karena masalah politis semata, pada saat itu yang di wakili dinas Pendidikan meniadakan mata pelajaran berkaitan khusus dengan Pancasila.
Kejadian yang tampak akibat dari kurangnya pendidikan, penghayatan dan pedoman terhadap Pancasila sebagai dasar negara sangat terasa saat ini, timbul suatu keprihatinan yang mendalam dan perlu solusi yang konkret untuk membentuk dan mengamalkan bahwa Pancasila sebagai pedoman negara yang mesti kita junjung tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam situasi demikian, banyak kalangan merindukan hadirnya Pancasila sebagai dasar ideologi dan pandangan hidup bangsa yang mampu menciptakan suasana keilahian, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan.
Saya senang mendengar dan melihat berita di media massa akhir-akhir ini kalau Bapak Presiden kita Joko Widodo atau yang akrab di panggil Bpk Jokowi di beberapa kunjungan kerjanya diberbagai daerah membuat semacam kuis kepada anak-anak sekolah yang ikut hadir menyemarakkan kunjungan kerjanya, yang mana salah satu kuisnya ada pertanyaan mengenai apa saja isi dari Pancasila. Walaupun ini baik namun alangkah baiknya pendidikan mengenai Pancasila ini perlu di “hidupkan” kembali dimulai lingkungan kelas sekolah dasar atau SD sampai setidaknya masa Sekolah menengah pertama atau SMP. Pendidikan Moral Pancasila dan P4 perlu diajarkan kembali karena nilai-nilai Pancasila mulai ditinggalkan pelajar dan masyarakat, terlebih budaya kekerasan marak terjadi, bahkan hal itu dilakukan di kalangan pelajar yang bukan merupakan dari sikap pancasilais. Mudah-mudahan dengan di resmikannya hari kelahiran Pancasila di era sekarang oleh Presiden Jokowi akan menjadi titik awal dihidupkannya kembali mata pelajaran PMP dan P4 guna membuat semangat kebangsaan yang berdasarkan Pancasila tumbuh kembali. Terima Kasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Negara Tak Cetak Uang Sebanyak-banyaknya Agar Bisa Bayar Utang dan Terbebas Kemiskinan?

Prinsip dasar mengantarkan presentasi yang efektif

MEMBACA DAN MENEBAK ARAH PDIP DALAM PILKADA DKI